Diprediksi, pemudik yang menggunakan sepedamotor di atas satu juta unit. Bisa kebayang, ruas jalan sepanjang Pulau Jawa bakal padat. Tentu tak semua pengendara roda dua itu ada yang berpengalaman, terutama teknik berkendara dan juga melewati jam perjalanan.
Bagi pemilik sepedamotor Honda, PT Astra Honda Motor (AHM) berbagai pengalaman melalui instruktur Safety Riding Honda, Anggona Iriawan. Perjalanan Anda lebih bermakna.
Karakter Motor
Sebelum berangkat mudik, kenali dulu kendaraan dengan baik. Paling mudah, karakternya motor sport atau skubek. “Setiap varian punya karakter berbeda. Misal sport punya handling nyaman buat perjalanan jauh,” ujar Anggono. Begitunya, titik lelah yang dialami ketika memakai varian bebek atau skubek bakal jauh berbeda.
Beredar asumsi, kalau skubek itu lebih nyaman. Tapi, nanti dulu. Lihat kondisi dan tempat penggunaan. Untuk perjalanan jauh mungkin cepat lelah. Namun kalau melibas jalan macet seperti yang ditemui di kota, tentu skubek lebih mantap. Itu karena banyak kemudahan yang diberikan. Misal, tak perlu naik-turun persneling.
Melintas Jalan Rusak
Berkendara keluar kota, tidak semua jalan punya kondisi mulus. Harus waspada, jangan sampai “terperosok” yang bisa menyebabkan gagal mudik. “Setiap jalan rusak, prinsipnya sebisa mungkin harus dihindari. Terutama, pemakai skubek. Karena diameter roda yang dipakai lebih kecil,” wanti Anggono.
Efek akibat benturan bisa langsung terasa. Apalagi, ketika menghajar lubang yang punya diameter kecil tapi dalam. Bisa jatuh. Ketika melintas jalan rusak, perhatikan handling. Buat penyemplak skubek, pastikan kondisi tubuh tidak lelah. Sebab karena roda lebih kecil, maka setiap perubahan kontur jalan bakal mempengaruhi manuver.
Perjalanan Malam
Banyak pemudik melakukan perjalanan di malam hari. Menurut Anggono, sebaiknya dihindari. Mengingat, kondisi tubuh yang tidak seprima ketika berkendara siang. “Berkendara malam, bisa berpengaruh ke refleks atau spontanitas pengendara,” sebut Anggono yang sering dikirim Jepang untuk keperluan safety riding Honda.
Karena, berkendara malam itu mempunyai suhu yang lebih dingin. Kondisi ini bisa mempengaruhi daya respon ke otak jika terjadi sesuatu dan refleks menjadi lama. Trus, kekuatan mata merespon cahaya juga mempengaruhi.
Parahnya lagi, jika lampu kendaraan lawan sangat menyilaukan. Karena respon lama, bisa juga mengedip lebih lama dari seharusnya. Begitunya, jalan di depan pun tak tahu arah dan situasinya.
Awas Titik Rawan
Setiap daerah yang dilintasi, pasti punya titik rawan kecelakaan. Baik itu jalan lurus atau jembatan, bisa jadi penyebab kecelakaan jika kontur jalannya mempunyai karakter blindspot! “Baiknya ketika melintasi titik rawan kecelakaan, batasi kecepatan kendaraan,” saran Anggono. Selain itu, antisipasi juga setiap respon dari kendaraan lawan. Misal, hempasan angin dari truk. Takutnya, hempasan itu malah membuat handling menjadi tidak karuan. Akibatnya, terjadilah kecelakaan.
Pantau Emosi Meluap
Menurut Anggono, masih ada satu hal lagi yang harus diperhatikan ketika mudik. Yaitu emosi. Terutama, ketika mendekati daerah atau tempat tujuan. Karena senang atawa gembira berlebih, berkendara jadi tidak terkontrol. “Biasanya hal ini terjadi 50–100 km menjelang tempat tujuan,” sebut pria yang juga hobi nonton balap ini. Nah, emosi berlebih ini jangan sampai terjadi. Tetap konsentrasi buat sampai di kampung halaman.
Waktu berkendara
Banyak orang yang membanggakan dirinya bisa memacu motornya berjam-jam. Tapi lihat dulu! Konstan atau tidak! Sebab kondisi berkendara konstan atau tidak, sangat berbeda. “Ketika berkendara konstan tanpa henti, biasanya memerlukan kondisi fisik yang lebih,” ungkap Anggono.
Agar berkendara tetap konstan, baiknya lakukan selama satu-dua jam. Lalu, istirahat sejenak sebelum melakukan perjalanan lagi. Karena, pada perjalanan lanjutan, tentu refleks atau respon tubuh bakal berkurang lantaran mengalami daya turun.
stay tune on http://bacaan-online.blogspot.com/
Bagi pemilik sepedamotor Honda, PT Astra Honda Motor (AHM) berbagai pengalaman melalui instruktur Safety Riding Honda, Anggona Iriawan. Perjalanan Anda lebih bermakna.
Karakter Motor
Sebelum berangkat mudik, kenali dulu kendaraan dengan baik. Paling mudah, karakternya motor sport atau skubek. “Setiap varian punya karakter berbeda. Misal sport punya handling nyaman buat perjalanan jauh,” ujar Anggono. Begitunya, titik lelah yang dialami ketika memakai varian bebek atau skubek bakal jauh berbeda.
Beredar asumsi, kalau skubek itu lebih nyaman. Tapi, nanti dulu. Lihat kondisi dan tempat penggunaan. Untuk perjalanan jauh mungkin cepat lelah. Namun kalau melibas jalan macet seperti yang ditemui di kota, tentu skubek lebih mantap. Itu karena banyak kemudahan yang diberikan. Misal, tak perlu naik-turun persneling.
Melintas Jalan Rusak
Berkendara keluar kota, tidak semua jalan punya kondisi mulus. Harus waspada, jangan sampai “terperosok” yang bisa menyebabkan gagal mudik. “Setiap jalan rusak, prinsipnya sebisa mungkin harus dihindari. Terutama, pemakai skubek. Karena diameter roda yang dipakai lebih kecil,” wanti Anggono.
Efek akibat benturan bisa langsung terasa. Apalagi, ketika menghajar lubang yang punya diameter kecil tapi dalam. Bisa jatuh. Ketika melintas jalan rusak, perhatikan handling. Buat penyemplak skubek, pastikan kondisi tubuh tidak lelah. Sebab karena roda lebih kecil, maka setiap perubahan kontur jalan bakal mempengaruhi manuver.
Perjalanan Malam
Banyak pemudik melakukan perjalanan di malam hari. Menurut Anggono, sebaiknya dihindari. Mengingat, kondisi tubuh yang tidak seprima ketika berkendara siang. “Berkendara malam, bisa berpengaruh ke refleks atau spontanitas pengendara,” sebut Anggono yang sering dikirim Jepang untuk keperluan safety riding Honda.
Karena, berkendara malam itu mempunyai suhu yang lebih dingin. Kondisi ini bisa mempengaruhi daya respon ke otak jika terjadi sesuatu dan refleks menjadi lama. Trus, kekuatan mata merespon cahaya juga mempengaruhi.
Parahnya lagi, jika lampu kendaraan lawan sangat menyilaukan. Karena respon lama, bisa juga mengedip lebih lama dari seharusnya. Begitunya, jalan di depan pun tak tahu arah dan situasinya.
Awas Titik Rawan
Setiap daerah yang dilintasi, pasti punya titik rawan kecelakaan. Baik itu jalan lurus atau jembatan, bisa jadi penyebab kecelakaan jika kontur jalannya mempunyai karakter blindspot! “Baiknya ketika melintasi titik rawan kecelakaan, batasi kecepatan kendaraan,” saran Anggono. Selain itu, antisipasi juga setiap respon dari kendaraan lawan. Misal, hempasan angin dari truk. Takutnya, hempasan itu malah membuat handling menjadi tidak karuan. Akibatnya, terjadilah kecelakaan.
Pantau Emosi Meluap
Menurut Anggono, masih ada satu hal lagi yang harus diperhatikan ketika mudik. Yaitu emosi. Terutama, ketika mendekati daerah atau tempat tujuan. Karena senang atawa gembira berlebih, berkendara jadi tidak terkontrol. “Biasanya hal ini terjadi 50–100 km menjelang tempat tujuan,” sebut pria yang juga hobi nonton balap ini. Nah, emosi berlebih ini jangan sampai terjadi. Tetap konsentrasi buat sampai di kampung halaman.
Waktu berkendara
Banyak orang yang membanggakan dirinya bisa memacu motornya berjam-jam. Tapi lihat dulu! Konstan atau tidak! Sebab kondisi berkendara konstan atau tidak, sangat berbeda. “Ketika berkendara konstan tanpa henti, biasanya memerlukan kondisi fisik yang lebih,” ungkap Anggono.
Agar berkendara tetap konstan, baiknya lakukan selama satu-dua jam. Lalu, istirahat sejenak sebelum melakukan perjalanan lagi. Karena, pada perjalanan lanjutan, tentu refleks atau respon tubuh bakal berkurang lantaran mengalami daya turun.
stay tune on http://bacaan-online.blogspot.com/
Widget by Still wish blog


Comments :
0 Comments to “Petunjuk Bagi Pemudik Motor”
Posting Komentar